URANG SUMANDO

Urang Sumando

   Urang Sumando" berasal dari bahasa Melayu Kuno, di mana "su" berarti badan dan "mando" berarti menumpang sementara. Dalam konteks Minang, "urang sumando" (orang sumando) adalah suami yang tinggal di rumah istrinya, sementara istrinya disebut "mandan" dan keluarga pihak lelaki menyebut istri saudara lelakinya sebagai "pasumandan"

  Dalam adat Minang posisi urang Sumando digambarkan sebagai “Bak abu di ateh tunggua” artinya posisinya sangatlah lemah. Namun, meskipun posisinya sangat lemah di tengah keluarga istrinya sebagai urang Sumando ia sangatlah dihormati.

  Seorang suami jika masih tinggal/ menetap dirumah keluarga istri maka oleh keluarga istrinya ia dianggap sebagai seorang tamu yang dihormati/ disegani. Dia hadir di rumah keluarga istri karena terjadi pernikahan, namun seorang sumando dia tidak termasuk anggota keluarga pihak istrinya. Dengan kata lain kedudukannya seperti pepatah Minangkabau; sadalam-dalam aia sahinggo dado Itiak, saelok-elok sumando sahinggo pintu biliak.

  Maksud dari pepatah tesebut, kewenangan sumando di rumah istrinya hanya sebatas pintu biliak/ kamar istrinya, serta kepala keluarga anak-anak dan istrinya. Pepatah lain mengatakan, sumando bak abu diateh tungku, tibo angin kancang abu batabangan, namun pepatah ini untuk zaman sekarang sudah tidak lazim disebut orang. Karena pada umunya begitu terikat pernikahan, mereka sudah tidak lagi tinggal bersama orang tua/ keluarga istrinya. Saat ini peran ayah/ bapak sudah sangat besar terhadap keluarganya. Sebagai pimpinan tanggung jawab ayah selakusumando sangat besar dan berat demi kelangsungan hidup keluarganya dan pendidikan anak-anaknya serta memikirkan kemenakannya.

macam-macam sumando Sbb;

1. Sumando Ayam gadang atau bisa dikatakan sumando buruang puyuah, yaitu seorang sumando yang hanya bisa beranak namun tanggung jawab sebagai seorang suami tidak dijalankan atau tidak peduli apa yang terjadi dengan anak dan istrinya, contohnya tidak mencari nafkah untuk istri dan anaknya,tidak ada tanggung jawab.

2. Sumando langau hijau yaitu seorang sumando yang memiliki kepribadian yang kotor, dia tidak peduli dengan kebersihan dirinya sendiri dan lingkungan. Sumando langau hijau hanya dipakai untuk memperbanyak anak saja, seperti seekor langau hijau yang terbang kesana kemari, sehingga bertelur dalam sampah dan sesudah itu terbang pula kemana dia suka. 

3. Sumando kacang miang merupakan sumando yang mempunyai sifat yang buruk , Kacang miang dikenal sebagai tumbuhan yang bila tersentuh bisa membuat kulit gatal-gatal. Sehingga perangai orang sumando yang membuat lingkungannya tidak senang atau gelisah disamakan dengan kacang miang.yaitu suka menghasut, memfitnah, dan orang menjadi biang masalah, pengacau, pengharu biru dalam kampuang. 

4. Sumando lapiak buruak adalah sumando yang tidak mau keluar rumah berusaha seperti ke sawah atau pun ke ladang, atau berdagang berniaga untuk nafkah anak dan istrinya.

Minangkaba

5. Sumando kutu dapua adalah Urang sumando yang banyak bekerja di rumah daripada di luar, di mana kerjanya seperti memasak, mencuci piring, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaannya sudah seperti pekerjaan kaum perempuan.

6. Sumando apak paja adalah sumando yang hanya  untuk diambil tuah keturunan saja. Dia tidak menghiraukan ekonomi di rumah istrinya dan malahan dia diberi uang atau sawah oleh kaum istrinya.

7. Sumando niniak mamak adalah Sumando yang jadi suri tauladan dan sangat diharapkan semua orang. Tutur kata dan budi bahasanya yang sangat baik, serta suka membantu kaum keluarga istrinya dan kaum keluarganya sendiri. Rang sumando niniak mamak ini adalah sebenar-benarnya rang sumando.

8.Sumando gadang malendo adalah sumando yang bisa merusak sistem keluarga Minang yaitu sumando yang semena-mena meletakkan dirinya sendiri sebagai kepala kaum, dengan kata lain yang mengurus sebuah acara adalah keluarga laki-laki.Ini menyulitkan kedudukan mamak dan kemenakan di Minangkabau.


#urangsumando #aluajopatuik #ranahminang #minangkabau #fyp 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR PASAMBAHAN ADAT MINANGKABAU

PACU JAWI TANAH DATAR